20/03/2015
titik temu. titik.
Dia tidak pernah ingat berapa banyak bekas luka di tangan yang dia buat sendiri atau pun ia dapatkan dari orang lain. Merah-merah ruam di sekujur tubuhnya semakin jelas terlihat. Ia yang dulu dengan sekarang jelaslah tidak sama. Yang dulunya dia adalah orang yang periang, sekarang hanya bisa diam membatu dihadapan semua orang. Semua orang membencinya, mereka katakan ia adalah pembawa sial. Ia sang pembawa kekacauan dan prahara dalam keluarga , ayah tiri dan ibu kandungnya , dirinya dengan kakaknya, ataupun bagi dirinya sendiri. Sudah beberapa kali ia mencoba bunuh diri, namun selalu ketahuan tetangganya. Namun lagi-lagi ia saja tetap merasa tersiksa jika ia masih tetap hidup. Di dalam dirinya sendiri maupun orang sekitarnya ia selalu merasa tak pernah berarti. Setiap hari ada saja luka baru lagi , dan baru lagi. Tak terhitung berapa banyaknya. Yang dari luka cakaran hingga pisau dapur pernah ia rasakan , yang dari disayat sendiri hingga disiram air panas pun sudah ia pernah rasakan. Katakan ia dalam fase traumatik yang amat berat , memang. Ia adalah anak yatim , yang ditinggal sejak usia 5 tahun oleh ayahnya yang tidak tahu kemana , tiba-tiba meninggalkan ia dan kakaknya yang masih kecil dalam kondisi menangis sangat keras di rumah. Saat itu ibunya sedang bekerja sebagai sekretaris pribadi presiden sebuah perusahaan ternama di kota-nya. Mendengar dua anak kecil menangis , tetangganya coba menelepon ibunya dan mengatakan bahwa ia dan kakanya sedang menangis menjerit di rumahnya. Ibunya yang panik saat itu langsung pulang dan sampai ke rumah. Mereka tidak bisa berhenti menangis dua hari berturut-turut. Saat mereka sudah tidak lagi menangis , barulah ibunya mengetahui dari mulut kecil mereka bahwa ayah mereka tiba-tiba pergi dari rumah itu dan berjanji tidak akan pernah kembali lagi. Ibunya bersikap merdeka , merasakan kebebasan. Tidak ada yang bisa memahami keadaan keluarga mereka. Mereka saat itu hanyalah dua anak kecil yang hampir setiap hari menangis menunggu ayahnya kembali ke rumah. Memang sebelum hari itu pertengkaran yang cukup hebat beberapa kali terdengar dari rumah yang cukup besar itu.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment