Kita pernah ditakdirkan dalam diam
Ketika seluruh raga ini tak bisa melakukan apa-apa
Suasana sekitar pun ikut diam , gelap , tanpa cahaya
Namun mataku masih dapat melihat kamu disana
Malam itu aku hanya bergelut dengan isi kepalaku sendiri
Antara aku ingin berbuat sesuatu atau mengalah saja
Namun yang aku lihat hanyalah kekecewaan tergambar di wajahmu
Lagi-lagi aku hanya bisa terdiam
Ada apa dengan kita selama ini?
Tahukah kamu bahwa aku sebenarnya mengetahui semua itu?
Mungkin aku memang tidak pernah tahu seperti apa rasa itu padamu
Yang aku tahu hanyalah ada sesuatu , diantara kamu dan perasaanmu sendiri
Aku tahu , aku merasa dilibatkan dalam hal ini
Mungkin ada rasa yang baru hadir
Namun terlambat aku sadari
Tapi setidaknya aku menyadarinya , at least.
Terlambat , kepalaku terlanjur penuh
Namun mulutmu tetap membisu dihadapanku dan aku pun begitu
"Maaf ya aku mengecewakanmu"
Kata itu saja yang pernah kudengar , sekali
Bukan itu yang ingin aku dengar sebenarnya
Yang aku ingin tahu ialah isi hatimu
Yang menyangkut aku
Ya , sebut saja aku ingin tahu
Tapi kamu juga harus tahu , mengapa semua ini bisa aku sadari begitu lambat
Karena itu , kamu sendiri , dan cinta yang memang baru hadir
Aku sebut itu cinta ,
Kata kamu belum tentu
Tapi satu hal yang pasti ,
memang semuanya terlambat untuk diketahui.
Namun aku tetap , ingin tahu.
Kupasrahkan semua ini , jika memang kita ditakdirkan untuk bersatu , kita kan menjadi satu :)
29/10/2015
24/10/2015
Ada ruang bernama jarak
Batas-batas yang tak pernah sejelas ini
Menyelinap diantara kehampaan
Yang mengubahku
Tanpa ragu , tanpa
15/10/2015
Hidup yang selalu dikeluhkan
Orang seringkali bilang "jangan ngeluh mulu kenapasih" tapi keadaannya memang minta dikeluhin banget. Bukan mengungkapkan pikiran untuk defense , tapi cuma lagi agak dissonance ,
13/10/2015
tanya
"Alex!"
"Hai
Seraya menoleh dan melambaikan tangan padaku , kamu berlari menghampiri. Entah apa , padahal bukan maksudku
"Hai
Seraya menoleh dan melambaikan tangan padaku , kamu berlari menghampiri. Entah apa , padahal bukan maksudku
11/10/2015
Sejenak
Sudah dua jam berlalu , semenjak kau berjanji untuk hadir di detik itu. Dari dandanan ku masih penuh , wajah merah merona , hingga pudar seperti aku dikala pagi , belum mandi. Masih ingin bersabar aku dengan mu , namun...
"cukup! aku sudah terlalu lama menunggu"
Seraya aku menenggak secangkir cokelat hangat dihadapanku , yang lebih manis dari kamu. Lalu aku duduk kembali.
"yasudah lah , nanti juga datang"
*hp berdering*
aku ingin sekali jahat kepadamu , rupanya aku tak pernah bisa. Pasti nanti aku yang akan sendiri merasakan lukanya, namun kamu tidak. aku mengalah lagi.
"ya?"
"maaf kamu ada dimana sekarang?"
"...."
Aku selalu saja ingin marah disaat seperti ini, sangat ingin. Tapi lagi-lagi ku tahan saja. Perasaan ini terlalu besar, untukmu seorang. Seseorang yang telah bersama yang lain. Yang menjadi pengharapan orang lain atas kebersamaan kamu dengannya, aku? bukan apa apa dan bukan siapa-siapa juga.
Lalu 25 menit kemudian , ia datang dengan keadaan lusuh masih memegang hp nya yang basah , berantakan , nyawa seperti terbang kemana-mana. Aku tak bisa melihatmu , saat ini.
"kok pertanyaanku tidak kamu jawab tadi?"
"menurutmu?"
"segitu tidak sudikah engkau bicara denganku hari ini?"
Ya , aku marah, sesungguhnya jengkel. Tapi tetap , melanjutkan pembicaraan yang terpotong semenjak tadi pagi itu favoritku.
"mari duduk, habiskan dulu cappucino dinginnya , yang kamu minta dan kamu cari sedari masih panas"
"kamu memang luar biasa"
"mengapa?"
"rahasia, nanti juga kamu tahu jawabannya"
kita bicara , dari kaku , sampai hanya tertawa terbahak-bahak melihat wajah satu sama lain. Oh tidak mungkin aku jatuh kali ini, tidak mungkin.
Tapi rasa siapa yang tahu pemiliknya
Anggap saja semua ini pengalihan sejenak
"Lalu , menurutmu apa yang kamu anggap sebagai sesuatu yang dapat dipercaya?"
"Intuisi mu , nomer satu"
"Kemudian?"
"Aku percaya satu hal , Perasaanmu, yang selalu kamu tahan dariku kan? aku tahu itu "
4 jam berlalu, ini bukan lagi masalah menunggu, namun siapa yang beruntung , menghabiskan waktu di warung kesukaan , ditambah dengan suara merdu khasmu saat bercerita , dan senyum mautmu. Oh Tuhan , dosa apa hamba-Mu ini?
04/10/2015
untukmu
Untuk seseorang yang pernah tahu segalanya tentangku , namun sekarang tidak
Untuk seseorang yang berani untuk bercerita tentang segalanya , namun sekarang tersenyum saja segan
Untuk seseorang yang pernah hadir dalam siang dan malamku , namun sekarang dicari pun sulit rasanya
Untuk seseorang yang pernah ku ikuti langkah nya setiap hari , namun sekarang aku ada dalam jarak
Untuk seseorang yang selalu ku buat kesal karena kehadiranku , namun sekarang aku diam
Untuk seseorang yang pernah merasa ketakutan oleh adanya diriku , namun sekarang aku memilih pergi
Untuk seseorang yang masih merasa aku belum menghapus segala tentangmu , namun sekarang aku sudah melupakanmu
Untuk seseorang yang merasa memenuhi seluruh kriteria diatas , maaf aku bukan lagi orang yang kau pikir masih seperti itu.
Aku sudah berubah. Sekarang semuanya kubuat biasa saja.
Tanpa ada lagi alasan aku akan terus membuatmu berjarak seperti hari ini.
Semuanya karena kamu.
Yang tanpa kata tanpa terucap sepatah katapun aku tahu kamu merasa begitu.
Untuk seseorang yang berani untuk bercerita tentang segalanya , namun sekarang tersenyum saja segan
Untuk seseorang yang pernah hadir dalam siang dan malamku , namun sekarang dicari pun sulit rasanya
Untuk seseorang yang selalu ku buat kesal karena kehadiranku , namun sekarang aku diam
Untuk seseorang yang pernah merasa ketakutan oleh adanya diriku , namun sekarang aku memilih pergi
Untuk seseorang yang masih merasa aku belum menghapus segala tentangmu , namun sekarang aku sudah melupakanmu
Untuk seseorang yang merasa memenuhi seluruh kriteria diatas , maaf aku bukan lagi orang yang kau pikir masih seperti itu.
Aku sudah berubah. Sekarang semuanya kubuat biasa saja.
Tanpa ada lagi alasan aku akan terus membuatmu berjarak seperti hari ini.
Semuanya karena kamu.
Yang tanpa kata tanpa terucap sepatah katapun aku tahu kamu merasa begitu.
Subscribe to:
Posts (Atom)