Dan malam ini pun berselimutkan kabut
Aku berusaha berjalan menembus diantaranya
Sepi
Terasa sunyi
Suara jangkrik menjadi temanku malam itu
Diantara bintang-bintang yang kelap kelip itu
Aku masih dapat rasi yang membentuk kilas wajahmu
Sambil menengadah keatas langit
Aku berdoa sambil seraya berkata
Kepada yang telah meniadakan adanya aku setelah satu masa itu berlalu
Apa kabarmu?
Bagaimana kondisimu sekarang?
Baik?
Masihkah engkau dengan pujaan hatimu satu itu?
Lalu aku kembali melipir sendiri
Kepalaku terasa pusing
Sudah cukup aku memenangkan ego kepada pemilik langit
Seolah aku ada
Padahal aku lebih kecil daripada sebutir debu
Tak berarti
Nyaris tak ada
Dan aku berakhir di persimpangan jalan.
Selamat tinggal
Kepadamu yang telah meniadakan adanya aku setelah satu masa itu berlalu
15/06/2016
11/06/2016
Seindah Langit Biru
Aku berlari ke arah matahari berlalu , mengikutiku seolah aku yang diam , sesungguhnya dua sudut itu saling bergerak. Lalu aku berhenti karena lelah, aku tanya pada diriku sendiri , apakah sebenarnya adanya aku memang benar? apakah kebinasaanku menghadirkan kebahagiaan bagi yang lain?. Seperti yang lain , aku hanya berpikir untuk tetap maju , maju kedepan , menghadapi hari di depan yang tak pernah aku ketahui lagi akan seperti apa. Kadang aku rindu, rindu disaat aku masih tidak pernah ada terbesit dalam pikiranku bagaimana tentang menjadi orang dewasa, menjadi seseorang yang selalu dan pasti memikirkan masalahnya sendiri. Aku rindu dimana aku hanya harus pergi 2 jam ke sekolah lalu pulang kemudian tidur tanpa ada beban sedikitpun , kemudian aku bangun lalu main dan kembali ke rumah dalam kondisi dekil...
"Ah pikiran apa ini, sudahlah aku hanya rindu masa kecilku yang tidak mungkin aku putar balikkan lagi. Ngelindur aja aku ini bisanya"
Pembicaraan diri ini sudah terlalu sering hingga otakku terasa cukup penuh padahal kalau kata orang-orang manusia hidup hanya menggunakan 10% kapasitas otaknya saja , kalau diriku sendiri sudah merasa 10000% sepertinya , padahal cuma dipakai untuk hanya terus termenung seperti ini , setiap hari , setiap waktu , ketika aku di kamar ataupun di kantor , padahal itu jam kerja , tapi aku selalu bisa untuk punya waktu untuk seperti ini ,padahal untuk makan aja seringkali tidak sempat , dandan apalagi , bahkan punya pacar saja tidak sempat karena alasan sibuk.
Di usia ku yang sudah mencapai hampir 30 tahun ini , sudah banyak omongan orang mengenai diriku , yang dibilang perawan tua lah , tomboy lah , penyuka sesama jenis lah , apa lah , aku tidak perduli. yang jelas aku bahagia dan berusaha terus menjadi mapan di usia yang tepat demi membahagiakan orang di sekitarku.
"Ah pikiran apa ini, sudahlah aku hanya rindu masa kecilku yang tidak mungkin aku putar balikkan lagi. Ngelindur aja aku ini bisanya"
Pembicaraan diri ini sudah terlalu sering hingga otakku terasa cukup penuh padahal kalau kata orang-orang manusia hidup hanya menggunakan 10% kapasitas otaknya saja , kalau diriku sendiri sudah merasa 10000% sepertinya , padahal cuma dipakai untuk hanya terus termenung seperti ini , setiap hari , setiap waktu , ketika aku di kamar ataupun di kantor , padahal itu jam kerja , tapi aku selalu bisa untuk punya waktu untuk seperti ini ,padahal untuk makan aja seringkali tidak sempat , dandan apalagi , bahkan punya pacar saja tidak sempat karena alasan sibuk.
Di usia ku yang sudah mencapai hampir 30 tahun ini , sudah banyak omongan orang mengenai diriku , yang dibilang perawan tua lah , tomboy lah , penyuka sesama jenis lah , apa lah , aku tidak perduli. yang jelas aku bahagia dan berusaha terus menjadi mapan di usia yang tepat demi membahagiakan orang di sekitarku.
Jangan lagi
Tak sadar kita pernah saling ada di sisi jalan itu
Namun sama-sama tak pernah mau mengakuinya
Bahkan lisan pun seolah membisu
Seketika
Sekejap
Seolah mata ini tak pernah melihatnya jua
Dimanakah....
Sesungguhnya saat itu semestinya hadir
Diantara kenyataan yang mengatakan tidak kepada adanya kita
Dan kepada dunia yang tak mengharapkan keajaiban ini hadir
Oh baiknya kau tak lagi ada disini
Semakin lama aku selalu melihatmu
Selalu ku terbayang akan masa itu
Yang tak pernah lagi pernah mau aku ulangi
Dan jangan lagi engkau membawa harapan itu
Sudah cukupkan saja waktu itu
Dimana lisanmu mengatakan tidak namun sudut matamu mencari dimana kebenaran berada
Dustai saja saat itu
Namun jangan kembali lagi
Aku lelah berada dalam seluruh ke abu-abuan ini
Cukup
Sekian.
Namun sama-sama tak pernah mau mengakuinya
Bahkan lisan pun seolah membisu
Seketika
Sekejap
Seolah mata ini tak pernah melihatnya jua
Dimanakah....
Sesungguhnya saat itu semestinya hadir
Diantara kenyataan yang mengatakan tidak kepada adanya kita
Dan kepada dunia yang tak mengharapkan keajaiban ini hadir
Oh baiknya kau tak lagi ada disini
Semakin lama aku selalu melihatmu
Selalu ku terbayang akan masa itu
Yang tak pernah lagi pernah mau aku ulangi
Dan jangan lagi engkau membawa harapan itu
Sudah cukupkan saja waktu itu
Dimana lisanmu mengatakan tidak namun sudut matamu mencari dimana kebenaran berada
Dustai saja saat itu
Namun jangan kembali lagi
Aku lelah berada dalam seluruh ke abu-abuan ini
Cukup
Sekian.
Subscribe to:
Posts (Atom)