Setelah 4 tahun ini berlalu, aku tak kunjung kembali pada kewarasanku
Merasa selalu ada dalam angan angan yang berlalu seperti angin
Telah kuucap selamat tinggal namun masih saja tak rela melepaskan
Dimana waktu yang kan mengobati itu tiba?
Masih terasa denyut nadi ini bila ku lihat fotonya, bahkan melihat namanya saja aku senang
Dimana kewarasanku?
Apakah aku terobsesi? Apakah aku benar-benar tak akan pergi?
Sungguh ku sudah tak sanggup lagi
Dibalik tawa itu, dibalik canda itu, banyak yg aku coba kendalikan
Menghentikan , mematikan perasaan ini akan seluruh kenangannya
Yang bagiku amat berharga walaupun baginya hanya angin lalu
Dimana kewarasanku?
-Ujar Sang Gila kepada dirinya yang masih ingin diakui kewarasannya
12/08/2016
02/08/2016
Sejenak terdiam.
Belakangan ini banyak disadarkan dengan kejadian-kejadian mendadak yang menbuatku terus bergetar.
Memang, hidup ini hanya berjarak lahir dan mati, namun dalam jarak itu lah yang tidak pernah kita ketahui berapa lamanya.
Ibuku selalu bilang , "Nak, Allah lagi ngingetin kamu bahwa dunia akan segera berakhir. Ibu ga minta kamu jadi seorang extreme-ist , tapi jd orang yang selalu sholat ,bersyukur dan beristighfar" .
Semakin hampir habis sisa usia ini, semakin banyak rintangan yang mesti dilalui. Kejadian-kejadian itu menyadarkanku, bahwa waktu ada batasnya, walaupun ia terus berjalan. Padahal, selama ini yg terlintas di benak hanya soal duniawi saja, melihat diri sendiri selalu lebih rendah dari orang lain padahal belum tentu, membayangkan bagaimana sumringahnya hati ini bila berada di altar resepsi, membayangkan diri ini memiliki segala yang cukup untuk menjalani dunia, dan lain sebagainya.
Tapi, aku luput, aku lalai, aku lupa.
Bagaimana pun, waktu ada batasnya.
Selagi diberi kesempatan, ayo bersyukur dan berlapang dada atas segala hal yang sanggup menempa hidup ini. Kuat dan lemah di posisi yang seimbang, karena kita manusia bukan superhero.
Mari kita tertunduk sejenak, dari segala kesombongan dunia.
Memang, hidup ini hanya berjarak lahir dan mati, namun dalam jarak itu lah yang tidak pernah kita ketahui berapa lamanya.
Ibuku selalu bilang , "Nak, Allah lagi ngingetin kamu bahwa dunia akan segera berakhir. Ibu ga minta kamu jadi seorang extreme-ist , tapi jd orang yang selalu sholat ,bersyukur dan beristighfar" .
Semakin hampir habis sisa usia ini, semakin banyak rintangan yang mesti dilalui. Kejadian-kejadian itu menyadarkanku, bahwa waktu ada batasnya, walaupun ia terus berjalan. Padahal, selama ini yg terlintas di benak hanya soal duniawi saja, melihat diri sendiri selalu lebih rendah dari orang lain padahal belum tentu, membayangkan bagaimana sumringahnya hati ini bila berada di altar resepsi, membayangkan diri ini memiliki segala yang cukup untuk menjalani dunia, dan lain sebagainya.
Tapi, aku luput, aku lalai, aku lupa.
Bagaimana pun, waktu ada batasnya.
Selagi diberi kesempatan, ayo bersyukur dan berlapang dada atas segala hal yang sanggup menempa hidup ini. Kuat dan lemah di posisi yang seimbang, karena kita manusia bukan superhero.
Mari kita tertunduk sejenak, dari segala kesombongan dunia.
Subscribe to:
Posts (Atom)