Ketika salah dibilang benar dan benar dibilang salah, lalu apa?
Kata mereka itu bukan urusanku , hanya urusan mereka dan bagian mereka, lalu aku siapa?
Urus saja dirimu sendiri baru urus orang lain, terlalu banyak waktu kubuang percuma untuk diriku sendiri , kemudian kau katakan aku egois, jadi aku harus bagaimana?
Kau bilang aku ikut campur urusanmu , tapi kau obrak-abrik urusanku, lalu , kamu siapa?
Yang kamu bilang aku harus katakan "sudah maklumi saja" , dan aku berkata sebaliknya , lalu , aku harus mengikuti jejaknya?
Kamu bilang aku harus perduli terhadap orang lain , tapi ketika aku mencoba perduli , kamu bilang aku terlalu banyak intervensi? Lah aku kudu piye?
Aku bilang kamu salah , kamu mengelak, lalu aku harus apa?
Kamu bilang ini tidak sesuai logika , aku bilang kamu juga tidak sesuai logika, lalu , kita akan bertemu dimana?
Dunia ini sudah terbalik , kawan.
Ketika kita perduli , dibilang kepo
Ketika kita acuh , dibilang egois
Ketika kita sadar , dibilang sok waras
Ketika kita alig , dibilang sok asik
Ketika kita tertawa , dibilang orang gila
Ketika kita menangis , dibilang cengeng
Ketika aku menulis postingan ini , dibilang bacot.
Lah , aku kudu piye toh?
27/06/2015
20/06/2015
"Intimacy" Issues - Self review. #EdisiHabisUasKepribadian2
Udah lama banget ga buka blog dan curhat. Biasanya cuma liat postingan syair yang sendu-sendu aja ya kan?
Lagi minggu uas juga sih jadinya agak-agak ga mood buat posting apapun , dan kegiatan sebejibun itu bikin tidur melulu. Hehehe
Ohya , mau bahas langsung to the point aja ya,
Jadi gini , beberapa hari yang lalu , sempet kena terror (lebay?!) , ya ada yang nelepon gitu. Tapi gatau itu siapa. Wong itu private number. Selalu pas jam 23.32 dan pas diangkat jawabannya cuma kayak orang lagi mau ngerekam sesuatu , kalo ngomong "ini siapa?" pasti dijawabnya kayak orang kumur2 gitu. Horror emang. Setelah update di timeline line , doi menghilang. Siapa tahu dia temen line (nahloh?!) sempet kepikiran gitu. Karena menelisik dari update line , emang sih pernah beberapa kali masang nomer handphone dikarenakan ketidak berdayaan paket handpone... siapa tahu ada pemberitahuan urgent. Tapi kok ujungnya jadi gini, pesan moral : jangan pernah masang nomer handphone di status line . #Noted.
Terus , lanjut ke cerita selanjutnya,
Sekarang lagi ada di fase gak percaya diri sama apa itu membangun intimacy -_- lagi susah banget untuk membangun self efficacy karena ngerasa kebutuhan sebelumnya ada yang mungkin belum terpenuhi, Kenapa ya kira-kira?
Asumsi #1 :
Kalo ngintip dari teorinya Maslow yang Hierarchy of Needs ,
Kalo teori ini kan bilangnya , ketika seseorang berhasil memenuhi kebutuhan yang ada di tingkat bawahnya , baru bisa ngelanjutin ke atasnya , sampai akhirnya mencapai self actualization. Istilahnya , karena ga mendapatkan kebutuhan yang dibawah makanya yang diatasnya ga bisa digapai. Trust issue tentang "cinta" sedang meningkat-meningkatnya. Padahal kalo dilihat dari lingkungan sekitar, justru temen-temen banyak lagi yang bahagia, bahagia dengan kondisi diri dan mungkin bisa dibilang "sedang membangun cinta" (( karena jatuh cinta itu mainstream)) .
Perasaan ini mungkin bisa aja hadir karena tadi , tidak tercapainya rasa aman dalam diri. Kebutuhan rasa aman yang didefinisikan disini bisa berbeda-beda tiap orang.
Bisa juga rasa aman tidak didapatkan karena adanya kebutuhan fisiologis yang tidak didapatkan sebelumnya , yaitu , kurang tidur , kesulitan untuk bernafas, kebutuhan homeostatis tubuh yang tidak terpenuhi , dan lain sebagainya. Sebenernya bukan 100% ngikutin teori Maslow sih , cuma sebagai salah satu acuan teori sebagai indikasi munculnya masalah ini.
Asumsi #2 :
Kalau dari teori Rogers , yang mengatakan bahwa Need for positive regards yang bisa dimaknai sebagai kecenderungan individu untuk ingin dihargai, diterima, dan dicintai oleh sesama manusia dalam hidupnya. Kasus ini bisa saja hadir karena tidak terpenuhinya bagian ini, kita semua tahu bahwa manusia , terutama yang sedang dalam masa remaja akhir , harus memenuhi kebutuhan ini. Sebenernya semua stage umur juga harus sih , tapi karena masa yang berapi-api ini akhirnya membuat kebutuhan ini menjadi lebih urgent dan besar dari yang lain. Kebutuhan yang tidak terpenuhi akhirnya membuat self concept seseorang tidak berhasil dibentuk karena tidak adanya pengalaman yang dapat membuat seseorang mengkonklusikan kepribadiannya.
Sebenernya masih ada beberapa asumsi lagi , tapi....mager ngetik hahahahha
16/06/2015
why?
these all matters
makes me (keep) asking anytime
why keep trying so hard when I could do it easier?
how could I still alive when my soul is already died?
makes me (keep) asking anytime
why keep trying so hard when I could do it easier?
how could I still alive when my soul is already died?
12/06/2015
[Prolog]
Suasana pagi di stasiun kali ini berbeda dari biasanya. Bukan karena kereta menuju Jakarta sepi , bukan. Rute kesana tidak pernah sepi , tidak akan pernah. Perbedaan yang cukup signifikan ini, yang biasanya aku terlambat , yang biasanya aku lusuh , tidak ada daya dan upaya untuk sedikitpun memiliki niat untuk berangkat ke sekolah , namun hari ini tidak. Memandangi jam tanganku , melihat sekelilingku , aku dikelilingi manusia-manusia bermobilitas tinggi. Tidak seperti diriku , ya tidak. Aku hanya seorang murid kelas 11 SMA biasa yang sehari-hari hanya bepenampilan seadanya , membawa barang secukupnya , tidak ada kelebihan yang berlebih dari diriku selain ke-sangat-pekaan-diriku , itu juga karena orang lain yang bilang. Aku sendiri tidak percaya sebenarnya karena masih mencari diriku yang sebenarnya.
Sekarang sudah jam 06.28 , tadi aku datang kesini jam 06.15. Biasanya aku baru sampai stasiun pukul 06.30. Aku mengecek handphone-ku. Oh ternyata aku sedang menunggu seseorang hari ini. Ya , dia. Seseorang yang berasal dari antah berantah , yang kini seketika hadir tanpa diminta untuk hadir. Tetapi sudah dua bulan ini aku merasa ada perubahan baik pada diriku , aku menjadi lebih sering berangkat pagi , lebih bisa terbuka dengan orang lain. Aku tahu, selama 16 tahun menjalani hidup ini, aku adalah orang yang sangat tertutup, tidak perduli dan tidak ingin terlibat dengan urusan orang lain.
Dia sering sekali terlambat , hingga sampai-sampai aku merasa ia seperti mempermainkan hidupnya , bahkan diriku.*dan dia berlari terengah-engah menghampiriku*
"lo udah terlambat berapa lama hari ini , dy?"ujarku. Aku sebenarnya masih bisa sabar menunggu, namun hal ini terlalu sering terjadi, terlalu sering.
*masih dengan nafas terengah-engah*
"maaf ya nin , tadi gue susah banget cari parkiran motor. Hahaha lo harus tau tadi petugas loketnya kocak banget."
*aku menyodorkan minumku untuknya*
"selalu deh lo tahu apapun tanpa diminta" salah satu hiburan yang aku paling suka dari dirinya.
"engga kok. gue cuma tau lo lagi capek aja"
*kereta datang*
"waduh keretanya penuh juga , mana bawaan gue banyak banget lagi"
aku , dengan bawaan hanya satu tas ransel dan satu tas laptop yang selalu kupegang , alasannya karena aku tidak bisa membawa barang berat , penyakit ini sedikit membebani aku. tapi aku selalu mencoba untuk tidak membuat orang lain repot dengan penyakitku."need help?" dia mencoba menawarkan dirinya
"no thanks , I can do it by my self"
Aku melihat matanya dalam-dalam, ada sudut menarik , amat sangat menarik. Bagi bocah ingusan seperti diriku , aku tidak pernah mengalami ini sebelumnya. aku bingung ada apa sesungguhnya pada diriku. aku seperti orang lain. aku tidak paham ada perasaan ini. perasaan yang menjadi pertanyaan retorika dalam kalbuku."jadi , tadi tuh kan gue keburu-buru gitu kan ya, terus tuh pintu masuk tau kan udah kayak antrian gitu........*blablablabla*...." sambil tertegun aku menatap ekspresinya yang begitu bersemangat ketika bercerita.
Aku tidak ingin mendengarmu, aku tidak ingin, aku hanya ingin sesering mungkin melihat pancaran sinar matamu. Ah , lagi-lagi aku. Egois , ingin menang sendiri. Pergolakan batin yang begitu kencangnya membuat aku tidak pernah sadar."oh gitu ya....hmmmm" aku hanya merespon seadanya, seperti biasa
"lo kenapa sih? selalu jawabannya gitu kalo gue cerita. ga ada respon lain?"
"lah terus gue harus jawab apa?"
Maafkan aku , aku terlalu fokus menatapmu."Eh gue belum belajar materi matematika yang kemaren disuruh ngulang ituloh , masih inget ga?" mengalihkan perhatian, aku jagonya.
"Oh trigonometri itu? masih-masih , nanti di kelas aja lah ya, gamungkin juga disini."
"iya , siap kapten"
Aku sebut dirimu dengan sebutan "Kapten" , bukan jenderal. Lagi-lagi aku tertegun dengan pancaran kharisma-mu yang begitu melekat pada dirimu, lagi-lagi aku hanya bisa memandangmu. Tanpa paham mengapa aku harus selalu seperti ini."udah mau sampe stasiun nih"
"siap - siap turun"
"waduh! kita terancam lari ke sekolah ini " sambil aku terkaget melihat angka di jam tanganku.
"emang jam berapa deh?"
"udah jam 06.52"
"waduhhhhh"
*turun kereta*
"hati-hati lo , nin"
"iya , bawel"
"gue bawel lo apa"
"yeee malah ribut"
"ayok lari!!!"
Kami berlari , dari stasiun hingga sekolah. Syukurlah sekolah kami memang tidak begitu jauh adanya , sekitar 250 meter saja.
09/06/2015
Subscribe to:
Posts (Atom)
