12/06/2015

[Prolog]

Suasana pagi di stasiun kali ini berbeda dari biasanya. Bukan karena kereta menuju Jakarta sepi , bukan. Rute kesana tidak pernah sepi , tidak akan pernah. Perbedaan yang cukup signifikan ini, yang biasanya aku terlambat , yang biasanya aku lusuh , tidak ada daya dan upaya untuk sedikitpun memiliki niat untuk berangkat ke sekolah , namun hari ini tidak. Memandangi jam tanganku , melihat sekelilingku , aku dikelilingi manusia-manusia bermobilitas tinggi. Tidak seperti diriku , ya tidak. Aku hanya seorang murid kelas 11 SMA biasa yang sehari-hari hanya bepenampilan seadanya , membawa barang secukupnya , tidak ada kelebihan yang berlebih dari diriku selain ke-sangat-pekaan-diriku , itu juga karena orang lain yang bilang. Aku sendiri tidak percaya sebenarnya karena masih mencari diriku yang sebenarnya. 
Sekarang sudah jam 06.28 , tadi aku datang kesini jam 06.15. Biasanya aku baru sampai stasiun pukul 06.30. Aku mengecek handphone-ku. Oh ternyata aku sedang menunggu seseorang hari ini. Ya , dia. Seseorang yang berasal dari antah berantah , yang kini seketika hadir tanpa diminta untuk hadir. Tetapi sudah dua bulan ini aku merasa ada perubahan baik pada diriku , aku menjadi lebih sering berangkat pagi , lebih bisa terbuka dengan orang lain. Aku tahu, selama 16 tahun menjalani hidup ini, aku adalah orang yang sangat tertutup, tidak perduli dan tidak ingin terlibat dengan urusan orang lain. 
Dia sering sekali terlambat , hingga sampai-sampai aku merasa ia seperti mempermainkan hidupnya , bahkan diriku.   
*dan dia berlari terengah-engah menghampiriku*

"lo udah terlambat berapa lama hari ini , dy?"ujarku. Aku sebenarnya masih bisa sabar menunggu, namun hal ini terlalu sering terjadi, terlalu sering.

*masih dengan nafas terengah-engah*

"maaf ya nin , tadi gue susah banget cari parkiran motor. Hahaha lo harus tau tadi petugas loketnya kocak banget."

*aku menyodorkan minumku untuknya*

"selalu deh lo tahu apapun tanpa diminta" salah satu hiburan yang aku paling suka dari dirinya.
"engga kok. gue cuma tau lo lagi capek aja"

*kereta datang*

"waduh keretanya penuh juga , mana bawaan gue banyak banget lagi"
aku , dengan bawaan hanya satu tas ransel dan satu tas laptop yang selalu kupegang , alasannya karena aku tidak bisa membawa barang berat , penyakit ini sedikit membebani aku. tapi aku selalu mencoba untuk tidak membuat orang lain repot dengan penyakitku.
"need help?" dia mencoba menawarkan dirinya
"no thanks , I can do it by my self"

Aku melihat matanya dalam-dalam, ada sudut menarik , amat sangat menarik. Bagi bocah ingusan seperti diriku , aku tidak pernah mengalami ini sebelumnya. aku bingung ada apa sesungguhnya pada diriku. aku seperti orang lain. aku tidak paham ada perasaan ini. perasaan yang menjadi pertanyaan retorika dalam kalbuku. 
"jadi , tadi tuh kan gue keburu-buru gitu kan ya, terus tuh pintu masuk tau kan udah kayak antrian gitu........*blablablabla*...." sambil tertegun aku menatap ekspresinya yang begitu bersemangat ketika bercerita.
Aku tidak ingin mendengarmu, aku tidak ingin, aku hanya ingin sesering mungkin melihat pancaran sinar matamu. Ah , lagi-lagi aku. Egois , ingin menang sendiri. Pergolakan batin yang begitu kencangnya membuat aku tidak pernah sadar. 
"oh gitu ya....hmmmm" aku hanya merespon seadanya, seperti biasa
"lo kenapa sih? selalu jawabannya gitu kalo gue cerita. ga ada respon lain?"
"lah terus gue harus jawab apa?"
 Maafkan aku , aku terlalu fokus menatapmu.
"Eh gue belum belajar materi matematika yang kemaren disuruh ngulang ituloh , masih inget ga?" mengalihkan perhatian, aku jagonya.
"Oh trigonometri itu? masih-masih , nanti di kelas aja lah ya, gamungkin juga disini."
"iya , siap kapten"
Aku sebut dirimu dengan sebutan "Kapten" , bukan jenderal. Lagi-lagi aku tertegun dengan pancaran kharisma-mu yang begitu melekat pada dirimu, lagi-lagi aku hanya bisa memandangmu. Tanpa paham mengapa aku harus selalu seperti ini.
"udah mau sampe stasiun nih"
"siap - siap turun"
"waduh! kita terancam lari ke sekolah ini " sambil aku terkaget melihat angka di jam tanganku.
"emang jam berapa deh?"
"udah jam 06.52"
"waduhhhhh"

*turun kereta*
"hati-hati lo , nin"
"iya , bawel"
"gue bawel lo apa"
"yeee malah ribut"
"ayok lari!!!"
Kami berlari , dari stasiun hingga sekolah. Syukurlah sekolah kami memang tidak begitu jauh adanya , sekitar 250 meter saja. 
 
 

No comments:

Post a Comment