"cukup! aku sudah terlalu lama menunggu"
Seraya aku menenggak secangkir cokelat hangat dihadapanku , yang lebih manis dari kamu. Lalu aku duduk kembali.
"yasudah lah , nanti juga datang"
*hp berdering*
aku ingin sekali jahat kepadamu , rupanya aku tak pernah bisa. Pasti nanti aku yang akan sendiri merasakan lukanya, namun kamu tidak. aku mengalah lagi.
"ya?"
"maaf kamu ada dimana sekarang?"
"...."
Aku selalu saja ingin marah disaat seperti ini, sangat ingin. Tapi lagi-lagi ku tahan saja. Perasaan ini terlalu besar, untukmu seorang. Seseorang yang telah bersama yang lain. Yang menjadi pengharapan orang lain atas kebersamaan kamu dengannya, aku? bukan apa apa dan bukan siapa-siapa juga.
Lalu 25 menit kemudian , ia datang dengan keadaan lusuh masih memegang hp nya yang basah , berantakan , nyawa seperti terbang kemana-mana. Aku tak bisa melihatmu , saat ini.
"kok pertanyaanku tidak kamu jawab tadi?"
"menurutmu?"
"segitu tidak sudikah engkau bicara denganku hari ini?"
Ya , aku marah, sesungguhnya jengkel. Tapi tetap , melanjutkan pembicaraan yang terpotong semenjak tadi pagi itu favoritku.
"mari duduk, habiskan dulu cappucino dinginnya , yang kamu minta dan kamu cari sedari masih panas"
"kamu memang luar biasa"
"mengapa?"
"rahasia, nanti juga kamu tahu jawabannya"
kita bicara , dari kaku , sampai hanya tertawa terbahak-bahak melihat wajah satu sama lain. Oh tidak mungkin aku jatuh kali ini, tidak mungkin.
Tapi rasa siapa yang tahu pemiliknya
Anggap saja semua ini pengalihan sejenak
"Lalu , menurutmu apa yang kamu anggap sebagai sesuatu yang dapat dipercaya?"
"Intuisi mu , nomer satu"
"Kemudian?"
"Aku percaya satu hal , Perasaanmu, yang selalu kamu tahan dariku kan? aku tahu itu "
4 jam berlalu, ini bukan lagi masalah menunggu, namun siapa yang beruntung , menghabiskan waktu di warung kesukaan , ditambah dengan suara merdu khasmu saat bercerita , dan senyum mautmu. Oh Tuhan , dosa apa hamba-Mu ini?
No comments:
Post a Comment