18/08/2015
Tali sepatu.
.......Lalu aku ikat tali sepatuku yang tiba-tiba saja lepas. Sambil merunduk , aku tidak memperhatikan ada suatu sinar yang mengarah padaku. Aku tidak dengar suara klaksonnya. Aku hanya tidak ingin mengetahuinya sebelum tali sepatuku terikat.
(Lalu aku tertabrak mobil)
Sejenak saja aku lupa semuanya, aku tak ingat apa apa, aku tak tahu berada dimana. Yang kali ini aku bisa lihat hanya suatu cahaya putih
Bebas
........Payung ini warnanya ungu
Yang kau bilang itu sendu
Tapi bukan itu ,
Aku memilihnya karena engkau
Engkau yang membawa ketenangan dalam syahdu
........Kata-kata ku bukan candaan
Air mata ini bukan tangisan
Cerita yang kau ukir ini bukan rekaan
Namun selalu membekas dalam perasaan
........Kamu mau bilang ini apa
Aku ini bukan merayumu dengan gombal
Bukan juga membuat khayalan
Karena kau , aku tak pernah jemu meramu kata-kata ini
........Pikiran ini
Pergi dan berlari , lalu kembali
Hilang dan datang dalam kedipan mata
Sejenak tak pernah kau mencela lelah ini
Lalu engkau pergi lagi
Jatinangor, 18.08.15
-Yang mendoakanmu dalam jarak-
11/07/2015
The essential meaning
" Ah elu baca puisi dikit gitu aja sedih , elu mah dikit - dikit baper"
"Duh , masa dia ga bales sms gue seharian" " Ah jangan baper mulu napa , lagi sibuk aja kali"
Akhir akhir ini , lagi tren banget sama kata "Baper". Kalo kata banyak orang baper itu artinya "bawa perasaan (alias kebawa perasaan). Agak aneh awalnya baca kata ini , kenapa? Jujur , agak ga setuju sama konsep ini. Manusia wajar memiliki perasaan yang hadir akan suatu hal , masa orang mau dilarang punya perasaan, kalo ga punya perasaan juga salah. Terus enaknya gimana?
Bukan untuk mengurangi makna diri , namun ada yang harus diperbaiki dari perbendaharaan kata maupun pemaknaan kata dari baper itu sendiri.
Mungkin inilah salah satu penyebab banyak masyarakat kita yang cenderung berpikir sesuatu hal pada dirinya dapat membuat dirinya selalu buruk (destruktif) , perspektif nya yang harus diubah. Manusia dilahirkan beragam , dengan kacamata beragam , cara menyikapi masalah beragam. Begitu juga ketika seseorang membangun dirinya. Ada yang menanggapi dengan maksud sama namun dengan cara yang berbeda. Mungkin "baper" disini adalah cara mereka untuk mengatasi stress yang dialami , atau malah pengalih stress , bahkan cara seseorang men-denial keadaan diri mereka.
Buat kamu yang masih suka ngeledekkin orang yang baper , mungkin kamu harus berpikir ulang.
Kemudian berpikir ulang , apakah definisi ke-baper-an menurutmu itu konstruktif apa destruktif?
07/07/2015
27/06/2015
Logika atau lo gila kali ya?
Ketika salah dibilang benar dan benar dibilang salah, lalu apa?
Kata mereka itu bukan urusanku , hanya urusan mereka dan bagian mereka, lalu aku siapa?
Urus saja dirimu sendiri baru urus orang lain, terlalu banyak waktu kubuang percuma untuk diriku sendiri , kemudian kau katakan aku egois, jadi aku harus bagaimana?
Kau bilang aku ikut campur urusanmu , tapi kau obrak-abrik urusanku, lalu , kamu siapa?
Yang kamu bilang aku harus katakan "sudah maklumi saja" , dan aku berkata sebaliknya , lalu , aku harus mengikuti jejaknya?
Kamu bilang aku harus perduli terhadap orang lain , tapi ketika aku mencoba perduli , kamu bilang aku terlalu banyak intervensi? Lah aku kudu piye?
Aku bilang kamu salah , kamu mengelak, lalu aku harus apa?
Kamu bilang ini tidak sesuai logika , aku bilang kamu juga tidak sesuai logika, lalu , kita akan bertemu dimana?
Dunia ini sudah terbalik , kawan.
Ketika kita perduli , dibilang kepo
Ketika kita acuh , dibilang egois
Ketika kita sadar , dibilang sok waras
Ketika kita alig , dibilang sok asik
Ketika kita tertawa , dibilang orang gila
Ketika kita menangis , dibilang cengeng
Ketika aku menulis postingan ini , dibilang bacot.
Lah , aku kudu piye toh?
Kata mereka itu bukan urusanku , hanya urusan mereka dan bagian mereka, lalu aku siapa?
Urus saja dirimu sendiri baru urus orang lain, terlalu banyak waktu kubuang percuma untuk diriku sendiri , kemudian kau katakan aku egois, jadi aku harus bagaimana?
Kau bilang aku ikut campur urusanmu , tapi kau obrak-abrik urusanku, lalu , kamu siapa?
Yang kamu bilang aku harus katakan "sudah maklumi saja" , dan aku berkata sebaliknya , lalu , aku harus mengikuti jejaknya?
Kamu bilang aku harus perduli terhadap orang lain , tapi ketika aku mencoba perduli , kamu bilang aku terlalu banyak intervensi? Lah aku kudu piye?
Aku bilang kamu salah , kamu mengelak, lalu aku harus apa?
Kamu bilang ini tidak sesuai logika , aku bilang kamu juga tidak sesuai logika, lalu , kita akan bertemu dimana?
Dunia ini sudah terbalik , kawan.
Ketika kita perduli , dibilang kepo
Ketika kita acuh , dibilang egois
Ketika kita sadar , dibilang sok waras
Ketika kita alig , dibilang sok asik
Ketika kita tertawa , dibilang orang gila
Ketika kita menangis , dibilang cengeng
Ketika aku menulis postingan ini , dibilang bacot.
Lah , aku kudu piye toh?
Subscribe to:
Posts (Atom)