02/09/2016

Dalam diam itu

Pagi ini , matahari bersinar cerah, angin semilir seraya mengikuti mendinginkan panas yang dihantarkan oleh matahari. Aku pergi melangkah menuju tempat kerja ku. Tampilan sederhanaku, membuatku merasa mungkin tak seorang pun akan melirik ke arahku, bahkan mungkin untuk sekedar tahu bahwa diriku ada disana saja pun enggan. Ketika aku berlari menuju halte, jam sudah menunjukkan bahwa sekarang jam

12/08/2016

Masih

Setelah 4 tahun ini berlalu, aku tak kunjung kembali pada kewarasanku
Merasa selalu ada dalam angan angan yang berlalu seperti angin
Telah kuucap selamat tinggal namun masih saja tak rela melepaskan
Dimana waktu yang kan mengobati itu tiba?
Masih terasa denyut nadi ini bila ku lihat fotonya, bahkan melihat namanya saja aku senang
Dimana kewarasanku?
Apakah aku terobsesi? Apakah aku benar-benar tak akan pergi?
Sungguh ku sudah tak sanggup lagi
Dibalik tawa itu, dibalik canda itu, banyak yg aku coba kendalikan
Menghentikan , mematikan perasaan ini akan seluruh kenangannya
Yang bagiku amat berharga walaupun baginya hanya angin lalu
Dimana kewarasanku?


-Ujar Sang Gila kepada dirinya yang masih ingin diakui kewarasannya

02/08/2016

Sejenak terdiam.

Belakangan ini banyak disadarkan dengan kejadian-kejadian mendadak yang menbuatku terus bergetar.
Memang, hidup ini hanya berjarak lahir dan mati, namun dalam jarak itu lah yang tidak pernah kita ketahui berapa lamanya.

 Ibuku selalu bilang , "Nak, Allah lagi ngingetin kamu bahwa dunia akan segera berakhir. Ibu ga minta kamu jadi seorang extreme-ist , tapi jd orang yang selalu sholat ,bersyukur dan beristighfar" .

Semakin hampir habis sisa usia ini, semakin banyak rintangan yang mesti dilalui. Kejadian-kejadian itu menyadarkanku, bahwa waktu ada batasnya, walaupun ia terus berjalan. Padahal, selama ini yg terlintas di benak hanya soal duniawi saja, melihat diri sendiri selalu lebih rendah dari orang lain padahal belum tentu, membayangkan bagaimana sumringahnya hati ini bila berada di altar resepsi, membayangkan diri ini memiliki segala yang cukup untuk menjalani dunia, dan lain sebagainya.

Tapi, aku luput, aku lalai, aku lupa.

Bagaimana pun, waktu ada batasnya.

Selagi diberi kesempatan, ayo bersyukur dan berlapang dada atas segala hal yang sanggup menempa hidup ini. Kuat dan lemah di posisi yang seimbang, karena kita manusia bukan superhero.

Mari kita tertunduk sejenak, dari segala kesombongan dunia.

16/07/2016

dalam jeda itu


Dia pergi membawa pesan yang tak sampai.
Terjebaklah ia kedalam jeda itu
Yang membawanya kepada keterombang-ambingan hidupnya
Kemudian ia berkata  perasaannya bukan lah hal terpenting yang harus ia sampaikan saat ini, namun ia berbohong

Waktu itu ia bilang ia melangkah pergi
Melangkah jauh dari rumahnya
Lalu dia memberi jeda waktu
Dia berkata bahwa hatinya tidak butuh pulang, lalu ia berbohong

Dan dalam jeda itu, kamu menjadi pembohong ulung.

Kalau kamu pulang (lagi) , akan aku katakan kepadamu,

"apakah aku hanya berharga satu jeda untukmu, lalu kamu pergi lagi?"

Sudahlah, cukup.

Tentukan pilihanmu, buat dirimu sendiri. Jangan mencari jeda, jangan pula jeda dicari.


-12:06-